<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726</id><updated>2011-07-28T18:00:00.139-07:00</updated><title type='text'>Our World</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726.post-7867296175847855547</id><published>2009-08-14T21:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T21:20:02.393-07:00</updated><title type='text'>Kontroversi Punk dan Ideologinya</title><content type='html'>Punk...., sebagai remaja kita pasti sering mendengar kata itu. sub budaya yang lahir di London, Inggris ini merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“We can do it ourselves”&lt;/span&gt; Kesan anti kemapanan tercermin dari gaya berpakaian mereka. Sayangnya saya sering membaca di website ataupun blog, masih banyak yang mencemooh atau bahkan menghujat eksistensi anak punk yang dianggap sebagai kaum perusuh dan ada juga yang mengatakan ideologi yang mereka usung adalah ideologi Yahudi. Padahal kita tidak tahu siapa mereka dan bagaimana mereka sebenarnya. Apakah memang sekelompok orang yang memang tak peduli apapun, pembuat onar dan kaum pinggiran, atau sekelompok orang yang hanya anti kemapanan dan otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme &lt;br /&gt;Craig O’Hara dalam bukunya “Philosophy of Punk” menyebut tiga definisi punk. Pertama adalah sebagai tren dalam fashion dan musik Kedua, sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, sebagai bentuk perlawanan hebat,  karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.&lt;br /&gt;Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Mereka sangat menentang otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk-Jews Ideology?&lt;br /&gt;Adalah dua nama Tamas Erdelyi yang lebih dikenal Tommy Ramone dan Richard Blum yang juga punya nama lain Handsome Dick Manitoba. Keduanya sangat terkenal di jagat musik punk, dan para penggemarnya dianggap “berdosa” besar jika tidak mengetahui mereka berdua. Pasalnya, Ramone dan Manitoba adalah pencipta dan peletak dasar musik yang banyak digandrungi anak muda itu. Dan keduanya adalah Yahudi.&lt;br /&gt;Musik punk sejak lahir diklaim sebagai musik anti-kemapanan.dan pada saat itu, seperti yang kita ketahui, Yahudi berada dalam situasi yang tidak mengenakkan, karena banyak dibenci oleh banyak orang. Punk sangat tidak biasa, dan ini karena banyak pencetusnya berkeyakinan Yahudi.&lt;br /&gt;Tapi apa hanya dengan dasar itu kita bisa mengatakan bahwa ideology punk hanya digunakan oleh kaum yahudi?&lt;br /&gt;Manitoba mengatakan, “Kami membuat musik punk hanya untuk senang-senang, dan sama sekali tak ada moralitas universal di dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk Indonesia&lt;br /&gt;Komunitas punk bisa dikatakan berkembang di Indonesia. Komunitas punk ini juga berkembang dari para kelas menengah, karena akses informasi dengan mudah didapatkan disana. Kemudian berkembang ke kelas menengah ke bawah karena di sanalah banyak dari mereka yang tertindas oleh kemajuan zaman. Pada awal masuk ke Indonesia, komunitas punk memplesetkan perkataan "punk" itu sendiri dengan kepanjangan "Pemuda Urakan nan Kreatif". Konsep inilah yang membuat punk bisa bertahan. Banyak sekali proses kreatif yang mereka lakukan. Banyak dari anak-anak punk yang menulis buku dan melukis bahkan membuat komunitas studi.&lt;br /&gt;Banyak sekali kontribusi lain yang diberikan seperti membersihkan kali atau musholla yang rutin mereka lakukan bahkan di Yogyakarta kelompok Taring Padi memberikan pelajaran bahasa Inggris, les gambar dan membuka perpustakaan umum dengan tujuan mendekatkan komunitas punk dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk in Action&lt;br /&gt;Ada sebuah fenomena baru di kalangan anak-anak punk. Yaitu, mengaji bersama punk. Mereka mengeindetitaskan pengajian komunitas underground itu dengan sebutan Punk Moslem. Adalah Ahmad Zaki, menyisihkan waktunya untuk mengasuh anak-anak punk belajar membaca Al Qur’an. Zaki, menaruh harapan besar, generasi muda ini kelak menjadi agen perubahan untuk menularkan kebaikan kepada rekan-rekan sesama anak-anak punk.&lt;br /&gt;Komunitas Punk Moeslem rupanya mulai banyak jaringannya. Ada komunitas Punk di Tangerang yang melakukan kegiatan islami juga. Shalat Jumat, misalnya, khotibnya pun dari komunitas mereka sendiri, gayanya metal abis. Termasuk jamaahnya.&lt;br /&gt;Setelah ngeband, anak-anak punk merasa ada sesuatu yang kosong. Lalu dibuatlah pengajian rutin. Setiap malam Jumat, diadakan taklim, bentuknya seperti mentoring. Sedangkan Selasa malam, belajar tahsin. Mulanya hanya lima anak yang ngaji, kemudian berkembang menjadi 20 orang, laki-laki dan perempuan. Kini, mengaji bagi mereka adalah sebuah kebutuhan.&lt;br /&gt;Awalnya mereka ada yang atheis. Sampai-sampai ada yang guyon, ah..gue mau masuk Islam atau Kristen dulu. Karena bagi mereka, agama bukanlah sesuatu yang sakral. Kalau pas ngamen, cuma dapat Rp. 300, diantara mereka ada yang teriak: “Allah Maha Pelit”. Setelah dibina, anak itu meyakini Allah itu tidak pelit. Tak ada jalan lain, cara membina mereka adalah dengan cara mendoktrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooooo… jadi kita bisa menjadi seorang punk dong!!!!&lt;br /&gt;Eitsssss…. nanti dulu…., jangan terlalu cepat mengambil keputusan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang kebebasan yang diusung anak-anak punk memang indah. Tidak ada larangan, paksaan apalagi aturang yang harus dipatuhi. Tapi sayang, kebebasan seperti itu hanya ada di utopia. Sekeras apapun kita menuntut kebebasan, pada akhirnya kita akan menyadari kenyataannya semua ada batasnya.&lt;br /&gt;Kita bisa acungi dua jempol untuk para remaja yang sadar dan merdeka dari para idola yang mengendalikan perilaku kita, para kapitalis yang membobol dompet kita, atau kebijakan negara yang membuat sengsara. Seperti idealisme para anak punk. Tapi jika merdeka dari aturan agama terutama Islam, sabar dulu….!!!!&lt;br /&gt;Kita memang punya pilihan untuk tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, acuh dengan dakwah, berlomba-lomba mengumbar aurat, atau menjadi pemuja hawa nafsu. Tapi itu bukan pilihan yang baik mengingat hidup kita juga ada batasnya. Kesempatan kita untuk bertobat juga ada batasnya. Percaya atau tidak, akan ada kehidupan lain di akhirat setelah kita meninggal dunia. Tempat kita mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan kita selama di dunia. Ini berlaku untuk semua: muslim or non muslim. Tentu, termasuk di antara yang beriman dan kafir itu ada yang memilih punker, maupun non-punker sebagai gaya hidupnya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, ketaatan terhadap aturan hidup Islam bukan rantai besi yang menggembok hidup kita, tapi justru yang membebaskan kita dari perbudakan hawa nafsu dan materi. Ketaatan ini yang akan menyelamatkan kita dunia-akhirat. Dan sewajarnya ketaatan ini juga yang membatasi kebebasan kita dalam berbuat atau berpendapat. Tidak hanya asal bergaya dan berjuang.&lt;br /&gt;Sobat, sebebas apapun kita, Pastinya kita juga harus siap menyambut kedatangan malaikat izrail kan? Dan siapkah kita mati esok, satu jam lagi, tau lima menit lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, maka dari itu, kita tidak boleh serta merta hanya menghujat para punkers atapun mengikuti gaya mereka. Harus ada dasarnya dong. Daripada hanya mencemooh ataupun menghujat, lebih baik kita introspeksi diri, apakah yang kita kerjakan itu sudah benar? Atau bahkan  lebih baik lagi, kita bisa seperti Ahmad Zaki yang berani berdakwah di kalangan anak punk tanpa menghujat mereka. Istilahnya “Talk Less Do More” lah… Tapi kita juga harus berfikir dua kali untuk menjadi seorang punk. Punk yang seperti apa dulu lah. Kalau hanya mengikuti  Ideologi mereka yang benci kapitalis dan otoritas, masih oke. Tapi kalau hanya ikut-ikutan atau bergaya ala para punk pikir sejuta kali deh! Percuma juga kalau hanya gaya doang yang punk, tapi masih terobsesi dengan artis sinetron pujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sid Villain….(Wahida Nurul S…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3475650261894026726-7867296175847855547?l=blenk569.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/7867296175847855547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/kontroversi-punk-dan-ideologinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/7867296175847855547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/7867296175847855547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/kontroversi-punk-dan-ideologinya.html' title='Kontroversi Punk dan Ideologinya'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726.post-4542846468279759218</id><published>2009-08-14T21:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T21:14:57.847-07:00</updated><title type='text'>Kontroversi Punk &amp; Ideologinya</title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { so-language: zxx } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Punk...., sebagai remaja kita pasti sering mendengar kata itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;sub budaya yang lahir di London, Inggris ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Californian FB,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;“We can do it ourselves”&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kesan anti kemapanan tercermin dari gaya berpakaian mereka. Sayangnya saya sering membaca di website ataupun blog, masih banyak yang mencemooh atau bahkan menghujat eksistensi anak punk yang dianggap sebagai kaum perusuh dan ada juga yang mengatakan ideologi yang mereka usung adalah ideologi Yahudi. Padahal kita tidak tahu siapa mereka dan bagaimana mereka sebenarnya. Apakah memang sekelompok orang yang memang tak peduli apapun, pembuat onar dan kaum pinggiran, atau sekelompok orang yang hanya anti kemapanan dan otoritas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Idealisme&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Craig O’Hara dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“Philosophy of Punk”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; menyebut tiga definisi punk. Pertama adalah sebagai tren dalam fashion dan musik&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kedua, sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, sebagai bentuk perlawanan hebat,  karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Mereka sangat menentang otoritas. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Punk-Jews Ideology?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Adalah dua nama Tamas Erdelyi yang lebih dikenal Tommy Ramone dan Richard Blum yang juga punya nama lain Handsome Dick Manitoba. Keduanya sangat terkenal di jagat musik punk, dan para penggemarnya dianggap “berdosa” besar jika tidak mengetahui mereka berdua. Pasalnya, Ramone dan Manitoba adalah pencipta dan peletak dasar musik yang banyak digandrungi anak muda itu. Dan keduanya adalah Yahudi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Musik punk sejak lahir diklaim sebagai musik anti-kemapanan.dan pada saat itu, seperti yang kita ketahui, Yahudi berada dalam situasi yang tidak mengenakkan, karena banyak dibenci oleh banyak orang. Punk sangat tidak biasa, dan ini karena banyak pencetusnya berkeyakinan Yahudi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Tapi apa hanya dengan dasar itu kita bisa mengatakan bahwa ideology punk hanya digunakan oleh kaum yahudi?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Manitoba mengatakan, “Kami membuat musik punk hanya untuk senang-senang, dan sama sekali tak ada moralitas universal di dalamnya.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Punk Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Komunitas punk bisa dikatakan berkembang di Indonesia. Komunitas punk ini juga berkembang dari para kelas menengah, karena akses informasi dengan mudah didapatkan disana. Kemudian berkembang ke kelas menengah ke bawah karena di sanalah banyak dari mereka yang tertindas oleh kemajuan zaman. Pada awal masuk ke Indonesia, komunitas punk memplesetkan perkataan "punk" itu sendiri dengan kepanjangan "Pemuda Urakan nan Kreatif". Konsep inilah yang membuat punk bisa bertahan. Banyak sekali proses kreatif yang mereka lakukan. Banyak dari anak-anak punk yang menulis buku dan melukis bahkan membuat komunitas studi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Banyak sekali kontribusi lain yang diberikan seperti membersihkan kali atau musholla yang rutin mereka lakukan bahkan di Yogyakarta kelompok Taring Padi memberikan pelajaran bahasa Inggris, les gambar dan membuka perpustakaan umum dengan tujuan mendekatkan komunitas punk dengan masyarakat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Punk in Action&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Ada sebuah fenomena baru di kalangan anak-anak punk. Yaitu, mengaji bersama punk. Mereka mengeindetitaskan pengajian komunitas underground itu dengan sebutan Punk Moslem. Adalah Ahmad Zaki, menyisihkan waktunya untuk mengasuh anak-anak punk belajar membaca Al Qur’an. Zaki, menaruh harapan besar, generasi muda ini kelak menjadi agen perubahan untuk menularkan kebaikan kepada rekan-rekan sesama anak-anak punk.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Komunitas Punk Moeslem rupanya mulai banyak jaringannya. Ada komunitas Punk di Tangerang yang melakukan kegiatan islami juga. Shalat Jumat, misalnya, khotibnya pun dari komunitas mereka sendiri, gayanya metal abis. Termasuk jamaahnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Setelah ngeband, anak-anak punk merasa ada sesuatu yang kosong. Lalu dibuatlah pengajian rutin. Setiap malam Jumat, diadakan taklim, bentuknya seperti mentoring. Sedangkan Selasa malam, belajar tahsin. Mulanya hanya lima anak yang ngaji, kemudian berkembang menjadi 20 orang, laki-laki dan perempuan. Kini, mengaji bagi mereka adalah sebuah kebutuhan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt; Awalnya mereka ada yang atheis. Sampai-sampai ada yang guyon, ah..gue mau masuk Islam atau Kristen dulu. Karena bagi mereka, agama bukanlah sesuatu yang sakral. Kalau pas ngamen, cuma dapat Rp. 300, diantara mereka ada yang teriak: “Allah Maha Pelit”. Setelah dibina, anak itu meyakini Allah itu tidak pelit. Tak ada jalan lain, cara membina mereka adalah dengan cara mendoktrin&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Oooooo… jadi kita bisa menjadi seorang punk dong!!!!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Eitsssss…. nanti dulu…., jangan terlalu cepat mengambil keputusan…..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Bicara tentang kebebasan yang diusung anak-anak punk memang indah. Tidak ada larangan, paksaan apalagi aturang yang harus dipatuhi. Tapi sayang, kebebasan seperti itu hanya ada di utopia. Sekeras apapun kita menuntut kebebasan, pada akhirnya kita akan menyadari kenyataannya semua ada batasnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Kita bisa acungi dua jempol untuk para remaja yang sadar dan merdeka dari para idola yang mengendalikan perilaku kita, para kapitalis yang membobol dompet kita, atau kebijakan negara yang membuat sengsara. Seperti idealisme para anak punk. Tapi jika merdeka dari aturan agama terutama Islam, sabar dulu….!!!!&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Kita memang punya pilihan untuk tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, acuh dengan dakwah, berlomba-lomba mengumbar aurat, atau menjadi pemuja hawa nafsu. Tapi itu bukan pilihan yang baik mengingat hidup kita juga ada batasnya. Kesempatan kita untuk bertobat juga ada batasnya. Percaya atau tidak, akan ada kehidupan lain di akhirat setelah kita meninggal dunia. Tempat kita mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan kita selama di dunia. Ini berlaku untuk semua: muslim or non muslim. Tentu, termasuk di antara yang beriman dan kafir itu ada yang memilih punker, maupun non-punker sebagai gaya hidupnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Sebagai seorang muslim, ketaatan terhadap aturan hidup Islam bukan rantai besi yang menggembok hidup kita, tapi justru yang membebaskan kita dari perbudakan hawa nafsu dan materi. Ketaatan ini yang akan menyelamatkan kita dunia-akhirat. Dan sewajarnya ketaatan ini juga yang membatasi kebebasan kita dalam berbuat atau berpendapat. Tidak hanya asal bergaya dan berjuang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Sobat, sebebas apapun kita, Pastinya kita juga harus siap menyambut kedatangan malaikat izrail kan? Dan siapkah kita mati esok, satu jam lagi, tau lima menit lagi?  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Nah, maka dari itu, kita tidak boleh serta merta hanya menghujat para punkers atapun mengikuti gaya mereka. Harus ada dasarnya dong. Daripada hanya mencemooh ataupun menghujat, lebih baik kita introspeksi diri, apakah yang kita kerjakan itu sudah benar? Atau bahkan  lebih baik lagi, kita bisa seperti &lt;/span&gt;Ahmad Zaki yang berani berdakwah di kalangan anak punk tanpa menghujat mereka. Istilahnya &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;“Talk Less Do More”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;lah… Tapi kita juga harus berfikir dua kali untuk menjadi seorang punk. Punk yang seperti apa dulu lah. Kalau hanya mengikuti  Ideologi mereka yang benci kapitalis dan otoritas, masih oke. Tapi kalau hanya ikut-ikutan atau bergaya ala para punk pikir sejuta kali deh! Percuma juga kalau hanya gaya doang yang punk, tapi masih terobsesi dengan artis sinetron pujaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;Sid Villain….(Wahida Nurul S…) &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.63in; margin-bottom: 0in;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3475650261894026726-4542846468279759218?l=blenk569.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/4542846468279759218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/kontroversi-punk-ideologinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/4542846468279759218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/4542846468279759218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/kontroversi-punk-ideologinya.html' title='Kontroversi Punk &amp; Ideologinya'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726.post-7055998117365446299</id><published>2009-08-07T22:04:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T22:07:50.994-07:00</updated><title type='text'>Daftar Mentee SMA N 1 Purbalingga Kelas X</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0); font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;1    Andari Restiana    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;2    Angkat Hesti P.    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;3    Atika Nur Arfiani    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;4    Evinta V.T.    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;5    Fatma N.Y.    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;6    Intan P.D.    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;7    Mia Desi T.Y.    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;8    Nurlatifah A    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;9    Putri Kartika    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;10    Ratna Daru    X-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;11    Ayu H.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;12    Cindy P.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;13    Dina A.M.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;14    Izma Z.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;15    Melya M.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;16    Mustika    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;17    Novi S.P.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;18    Nurwulan    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;19    Rizkia S.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;20    Sinta K    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;21    Sisca A.    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;22    Sofiana    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;23    Sulistya    X-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;24    Ashifatul Madinah    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;25    Bella Azaria    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;26    Dede Fatmawati    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;27    Destyaningrum R.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;28    Elma Mardelina    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;29    Endah T.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;30    Herlambang F.W.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;31    Hyana Swargani    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;32    Intan Ade Puspita    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;33    Laza Nudia L.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;34    Lisa Irawati    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;35    Meliana M.Y.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;36    Nanda Nur Aini    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;37    Nifar Atsmarani    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;38    Nuzulul Aciati    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;39    Pipi Yustisia V.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;40    Uli Nuha    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;41    Zeninda Anggi P.    X-5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;42    Agnes S    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;43    Aisyah    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;44    Amalia M.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;45    Apri Nurpangati S.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;46    Ayu Putri S.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;47    Ervina Dian M.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;48    Fatikhat Nur L.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;49    Intan Trimutia L.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;50    Laeli latif H    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;51    Mewia R.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;52    Oktavesa T.K.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;53    Oktisa L.A.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;54    Risa Tri A.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;55    Ryzki Indah R.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;56    Selyana N.    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;57    Syafira Fadilah    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;58    Vicky Febriana    X-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;59    Erima Rifqi A.    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;60    Fullim Rakhmawati    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;61    Iffah N.F.    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;62    Qonita Hafidz M.    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;63    Siti Kholidiatus    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;64    Tertian Yusliana    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;65    Tri Wijayanti    X-7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;66    Husna Nurdina    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;67    Dwi Masnaning T.    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;68    Vista Awaliyah    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;69    Reni Liansari    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;70    Arnaizda Dwi    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;71    Hana Nur Pratiwi    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;72    Ines Dwi K.    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;73    Vina Annisa Diena    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;74    Yaniar Rahmah    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;75    Puspa Hilda Dwi    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;76    Radianita Anggi S.    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;77    Azzah Atika P.    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;78    Retno Palupi    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;79    Monika Dwi U    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;80    Nur Issusilanigtyas    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;81    Intan K.    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;82    Puspa Nirmalawati    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;83    Elma Sulistia    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;84    Zulfa Mahmudah    X-9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;85    Rahmanitya R.S.    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;86    Indah A.D.    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;87    Ratna Novitasari    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;88    Putri Utamy    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;89    Amalia Faradila    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;90    Nurul Khalidah    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;91    Linda Anggraeni    X-10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;92    Apri Meli A.    X-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3475650261894026726-7055998117365446299?l=blenk569.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/7055998117365446299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/daftar-mentee-sma-n-1-purbalingga-kelas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/7055998117365446299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/7055998117365446299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/08/daftar-mentee-sma-n-1-purbalingga-kelas.html' title='Daftar Mentee SMA N 1 Purbalingga Kelas X'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726.post-2364873852823859135</id><published>2009-07-02T22:18:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T22:23:21.600-07:00</updated><title type='text'>MEWUJUDKAN GENERASI BERKUALITAS DENGAN KETAHANAN KELUARGA</title><content type='html'>Generasi berkualitas adalah para remaja atau para pemuda yang kecerdasannya tidak terbatas pada kecerdasan intelektual saja, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang bagus. Tak dapat dipungkiri, Indonesia membutuhkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.   &lt;br /&gt;Kondisi Negara Indonesia yang beralam subur dan memiliki aneka ragam sumberdaya melimpah, akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Begitu banyak permasalahan yang menimpa Negara kita tercinta ini. Diawali oleh krisis moneter, anjlognya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp. 16.000,00 menjadi sebab munculnya krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini diikuti dengan situasi politik yang kacau dan sangat labil. Munculnya banyak kepentingan-kepentingan kelompok semakin memporakporandakan kehidupan masyarakat.  Terlalu banyak agenda pemerintah, yang masing-masing menuntut untuk segera diselesaikan, namun kemampuan pemerintah terlihat kurang memadai. Ini berakibat pada kian merosotnya daya beli masyarakat.   &lt;br /&gt; Disinilah peran generasi berkualitas dibutuhkan. Negara Indonesia memerlukan generasi-generasi muda yang memiliki kualitas bagus untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menerpa Negara kita. Akan tetapi ancaman terhadap generasi muda saat ini sangat bermacam-macam. Mulai dari putus sekolah, serangan berbagai bentuk pornografi hingga  narkoba.&lt;br /&gt;Salah satu fenomena yang ditunjukkan masyarakat yang sedang dilanda krisis di berbagai macam sisi kehidupan adalah anak-anak putus sekolah yang terpaksa atau dipaksa keadaan untuk menjadi pengamen atau peminta-minta. Awalnya mereka memang terpaksa untuk mengamen dari bis ke bis, dari lampu merah satu ke lainnya, dan menadahkan tangan meminta belas kasihan dari satu kaca jendela mobil ke yang lainnya karena keadaan ekonomi. Tetapi lama kelamaan karena kondisi kehidupan yang tidak juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberikan cahaya perbaikan membuat mereka terbiasa dengan kehidupan di jalanan sebagai pengamen atau pengemis. Bahkan mungkin sebagian dari mereka telah menemukan kenikmatan sebagai anak jalanan.&lt;br /&gt;Keluarga lebih membuka peluang bagi anak-anaknya untuk bekerja sebagai pengamen atau pengemis daripada memberikan peluang untuk menuntut ilmu di sekolah seperti bagaimana seharusnya. Kemampuan anak menghasilkan uang dari mengamen dan mengemis membuat para orang tua enggan menyekolahkan anak-anaknya.  &lt;br /&gt;Dari sekian banyak ancaman-ancaman terhadap para remaja, narkobalah yang menjadi raja. Saat ini narkoba semakin menggila di kalangan para remaja yang merupakan generasi penerus bangsa. Berdasarkan temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) pemakai narkoba di Indonesia telah mencapai angka lebih dari 3,2 juta jiwa dan para remajalah kelompok yang paling rentan terhadap narkoba. Narkoba memiliki efek adiktif yang membuat pemakainya akan kecanduan dan parahnya akan mengalami ketergantungan.&lt;br /&gt;Banyak faktor yang menyebabkan seorang anggota keluarga menjadi pengguna narkoba. Faktor pertama adalah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan angota keluarga yang lain mengenai narkoba dan gejala penggunannya, akhirnya dapat membuat para pecandu berlarut-larut  dalam bahaya narkoba. Faktor kedua adalah karakter. Karakter yang damai, tidak menginginkan konflik, tidak mau ada masalah, dan sangat mudah untuk dibujuk teman akan sangat mudah terjerat nerkoba. Pecandu narkoba sebagian besar 40% berkarakter damai, 25 % berkarakter popular, dan 10%nya berkarakter kuat.&lt;br /&gt;Melihat bagaimana besarnya ancaman narkoba, putus sekolah kepada para generasi penerus bangsa, membuat kita berpikir akan pentingnya  membentuk suatu ketahanan keluarga yang diharapkan dapat membentuk generasi berkualitas.  &lt;br /&gt;Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga dalam mengelola sumberdaya yang dimiliki dan menanggulangi masalah yang dihadapi. Pentingnya keluarga membentuk generasi berkualitas adalah untuk mewujudkan Negara Indonesia yang lebih baik.&lt;br /&gt;Namun, kondisi krisis di Indonesia semakin memperlihatkan rontoknya ketahanan keluarga. Keluarga semakin lemah dalam memfungsikan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi pendidikan sudah diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan  seperti sekolah-sekolah sehingga orang tua merasa tugasnya dalam hal memperkembangkan segi intelektual anak menjadi jauh lebih ringan. Fungsi rekreasi juga telah berpindah dari pusatnya di keluarga ke tempat-tempat hiburan di luar rumah. Anggota-anggota keluarga tidak lagi menempati tempat yang berarti, karena tidak lagi dirasakan ikatan saling membutuhkan.&lt;br /&gt;Generasi berkualitas dibentuk oleh lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan  yang peduli terhadap proses pertumbuhan dan pengembangan para remaja, yang memberikan cara, memberikan fasilitas, aturan dan pemberian reward-punishment yang seimbang selama proses tumbuh kembang mereka. Disinilah peran penting keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas sangat dibutuhkan  Jelas peran keluarga terutama orang tua sangat dibutuhkan bagi tumbuh kembang anak di segala aspek, perkembangan fisik, intelektual, emosi, moral, kepribadian dan spiritual. Kebutuhan akan kelekatan psikologis, kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental dimana diperlukan perhatian yang sangat besar dari orang tuanya, serta kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi bagi anak agar dapat mencapai tumbuh kembang optimal.&lt;br /&gt;   Keluarga memiliki fungsi yang tidak terbatas. Dalam bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia pertama-tama diperoleh dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;Peran orang tua dalam menciptakan generasi yang berkualitas sangatlah besar. Terkadang orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya jarang atau bahkan tidak pernah memberikan pengarahan kepada anak. Ketiadaan pengarahan dari orang tua terhadap anak, akan mengombang-ambingkan diri anak dalam suatu kebimbangan yang tidak menentu. Orang tua tidak menyadari kurangnya perhatian sama dengan membuka kesempatan kepada para pengedar dan Bandar narkoba untuk mengeruk keuntungan.&lt;br /&gt;Kasih sayang dan perhatian antara sesama anggota keluarga yang besar merupakan salah satu cara membentuk ketahanan keluarga setelah memberikan pendidikan agama. Menguatkan benteng keagamaan memang menjadi sedemikian penting mengingat ancaman penyalahgunaan narkoba sangat beragam dan menyerang siapapun tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;Sebuah keluarga yang memiliki ketahanan yang bagus akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam keluarga. Keadaan seperti itu dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan emosional anak yang dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.&lt;br /&gt;Apabila sebuah keluarga telah dapat mengelola sumberdaya yang dimiliki dan menanggulangi masalah yang dihadapi, maka telah memiliki ketahanan yang baik, maka Indonesia akan memiliki para generasi penerus bangsa yang kualitasnya bagus. Dengan adanya generasi berkualitas bukan tidak mungkin Indonesia dapat menjadi sebuah Negara yang diperhitungkan oleh dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amieeen.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BY : Sid Villain, Blenk-569&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3475650261894026726-2364873852823859135?l=blenk569.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/2364873852823859135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/07/mewujudkan-generasi-berkualitas-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/2364873852823859135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/2364873852823859135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/07/mewujudkan-generasi-berkualitas-dengan.html' title='MEWUJUDKAN GENERASI BERKUALITAS DENGAN KETAHANAN KELUARGA'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3475650261894026726.post-3718738972424836077</id><published>2009-07-02T21:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T22:17:40.493-07:00</updated><title type='text'>About us</title><content type='html'>Kita adalah 3 murid "ruwag" (Shin, Sid, dan Rizki) dari Ganesha. Dipertemukan dalam sebuah ekstrakulikuler yang cukup besar di sekolah yaitu : &lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;AI&lt;/span&gt; (amalan islam) dan juga sebuah mentoring bernama mentoring ceria with our beautiful mentor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sofistika Carevy &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4rk0DEEG4ig/Sk2LxhKrX9I/AAAAAAAAAAM/YpJ70BhOs8k/s1600-h/IMG3083A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4rk0DEEG4ig/Sk2LxhKrX9I/AAAAAAAAAAM/YpJ70BhOs8k/s200/IMG3083A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354089214846394322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada kisah historik yang melandasi terbentuknya Blenk-569 ini. Kita hanya sama-sama suka musik dan bisa memainkan alat musik yang sama yaitu : GITAR, jadilah terbentuk band kita ini. Justru hal-hal menyenangkan terjadi pada hari-hari berikutnya. Mulai dari latihan Gitar bareng sampe dikira pengamen (disawer 20000, kayak penyanyi dangdut aja), Mabit yang bener-bener menegangkan, sampe acara JamesBond yang bener-bener menguras tenaga, karena kita harus jalan berkilo-kilo meter jauhnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra.....bersama teman bertualang&lt;/span&gt; jadi kayak soundtracknya nindja Hatori gini, pokoknya gitu lah!&lt;br /&gt;Kalo menurut penuturan orang-orang, persahabatan itu kadang manis kayak gula dan bisa jadi pahit kayak pil. Tapi bagi kita, pil pahit kita anggap sebagai vitamin c yang rasanya asem-asem seger..., jadi semuanya kita hadapi dengan senyuman. Soalnya kita bertiga jarang curhat-curhatan, tangis-tangisan kayak sinetron di TV. Kalo ketemu yang ada pengen ketawa aja. Abis, gimana lagi muka kita aneh-aneh sih.&lt;br /&gt;Dan begitulah Blenk 569, seru, rame dan nggak banget! dan semoga persahabatan kita terus berlangsung sampai alam kubur...he...he...he....&lt;br /&gt;Dan semoga kami semua dipertemukan kembali di Surga mu ya Allah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love u cuz Allah....&lt;br /&gt;Blenk-569&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3475650261894026726-3718738972424836077?l=blenk569.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blenk569.blogspot.com/feeds/3718738972424836077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/07/about-us.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/3718738972424836077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3475650261894026726/posts/default/3718738972424836077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blenk569.blogspot.com/2009/07/about-us.html' title='About us'/><author><name>Our World</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16227417544394244273</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4rk0DEEG4ig/Sk2LxhKrX9I/AAAAAAAAAAM/YpJ70BhOs8k/s72-c/IMG3083A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
